Sejarah Singkat Berdirinya Masjid Al-Ihsan

Sejarah Singkat Berdirinya Masjid Al-Ihsan

MASJIDALIMasjid Al-IhsanHSAN.COM – Komplek Astek – Wartawan yang terletak di Lengkong Gudang Timur mulai dibangun pada tahun 1980-an. Jumlah rumah yang terdiri dari tepy 54 dan 70 itu ada 100 unit bahkan lebih. Penghuninya satu persatu mulai berdatangan mengisi rumah masing-masing. Saya sendiri bersama keluarga pindah kesini pada bulan Maret 1984. Komplek Astek ini cukup istimewa, karena waktu diresmikan, tiga Menteri yang hadir diajak oleh Dirut Perum Astek (bapak M Iwan Stamboel), yaitu : Menaker (bapak Sudomo), Menpen (bapak Harmoko) dan Menpera (bapak Cosmas Batubara).

Waktu tahun-tahun awal tinggal di Komplek Astek, Masjid belum ada. Untuk shalat Taraweh pada bulan Ramadhan terpaksa dilaksanakan di rumah yang kosong atau pindah-pindah dari rumah warga yang satu ke rumah warga yang lain. Pelaksanaan ibadat dari rumah ke rumah ini berdasarkan permintaan. Kalau tidak ada permintaan, kembali lagi ke rumah kosong. Makin lama warga semakin ramai yang menghuni Komplek ini. Fasilitas Umum (Fasum) tidak tersedia. Lalu muncul ide membangun Mushalla di atas lahan kosong sebelah Utara TPU Mangga. Sewaktu lagi asyik mengukur-ukur tanah dan menyesuaikan arah Kiblat, tiba-tiba ada sekelompok masyarakat yang datang dan memperotes rencana pembangunan Mushala tersebut. Mereka mengatakan : “Lahan ini untuk kuburan, bukan untuk rumah ibadah. Nanti kalau kita meninggal dikubur dimana?” Alasan yang memprotes masuk akal. Akhirnya warga yang ingin membangun Mushalla tadi membubarkan diri.

Berita tentang peristiwa ini diketahui oleh Kong Sari, sesepuh dan orang tua yang dihormati di Lengkong Gudang. Beliau mengatakan : “Kalau begitu, ya sudah. Sekarang bangunlah Masjid di atas tanah saya. Beliau mengajak warga ke lokasi. Tanah ini saya dan keluarga mewakafkannya untuk Masjid”. Subhanallah! Warga terharu dan bersyukur atas diwakafkan tanah tersebut untuk Masjid. Lalu warga bergotong royong membangun rumah ibadah yang sekarang dikenal sebagai Masjid Al-Ihsan di atas tanah wakaf Kong Sari dan keluarganya.

Dalam pembangunan Masjid Al-Ihsan, sebagian dana didapat dari Perum Astek / PT Jamsostek. Makanya kalau diperhatikan prasasti yang ada, tercantum tanda tangan bapak M Iwan Stamboel dan bapak Drs A. Djunaidi, Ak. Keduanya adalah Direktur Utama dari BUMN ini pada periode yang berbeda.

Dalam perjalanan waktu, tanah Masjid Al-Ihsan terus bertambah. Mula-mula perluasannya ke sebelah kanan yang sekarang jadi Aula atau Ruang Klas anak-anak TPA. Kemudian tanah yang di sebelah Barat Masjid dibebaskan. Rencananya untuk perluasan fisik Masjid. Belum lama ini, tanah sebelah Selatan Masjid, tanah milik bapak Sugiyono dibeli. Rencananya di situ akan dibangun Rumah Al-Qur’an (Daarul Qur’an).

Masjid Al-Ihsan sudah berdiri 30 tahun lebih. Pengurusnya ganti berganti. Belum lama ini warga dan jama’ah memilih Pengurus baru DKM Al-Ihsan. Pengurus lama yang dipimpin bapak Ahmad Fauzi menyerahkan kepengurusan Masjid Al-Ihsan kepada M Yusuf Sisus. Banyak harapan yang ditumpukan kepada Pengurus DKM Al-Ihsan, terutama dalam memakmurkan Masjid. Harapan ini Insya Allah akan terwujud bila antara Pengurus dan jama’ah / warga terjalan kerja sama yang baik. Pengurus pasti ada kekurangannya, maka diharapkan pula agar kekurangan dari Pengurus ini dicukupkan oleh jama’ah / warga.

Semoga Allah melimpahkan Rahmat-Nya kepada kita semua. Aamiin!

 

About

POST YOUR COMMENTS

Pengunjung

  • 0
  • 149
  • 429
  • 3.278
  • 24.670
  • 502.285
  • 1.282.799
  • 505