Presiden: Natal, Kesederhaaan, dan Keberanian Berkata Cukup

Presiden: Natal, Kesederhaaan, dan Keberanian Berkata Cukup



Kupang (Pinmas) —- Presiden Joko Widodo memberi pesan khusus kepada umat Kristiani seluruh Indonesia dalam perayaan Natal Nasional di Kupang, NTT, Senin (28/12).  Menurutnya, Natal harus membawa semangat perubahan. Tanpa perubahan perilaku, Natal hanya akan menjadi seremonial belaka.

“Natal  harus memberi semangat kesederhanaan untuk berani mengatakan cukup, semangat untuk rela berbagi, semangat untuk tidak menghamburkan uang, semangat untuk memperkecil jurang antara yang kaya dan miskin,”  pesan Presiden Jokowi di hadapan ribuan umat Kristiani yang berkumpul di alun-alun Rumah Jabatan Gubernur  NTT.

Hadir dalam kesempatan ini, Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin beserta Ibu Trisna Willy, sejumlah menteri Kabinet Kerja, Panglima TNI dan Kapolri, beberapa Dubes negara sahabat, Gubernur bersama jajaran Pemprov NTT, ketua PGI dan KWI, Uskup Agung Kupang, serta para  tokoh agama Kristen dan ribuan umat kristiani dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Presiden mengingatkan umat Kristiani agar, perayaan Natal tidak hanya  menjadi seremonial belaka. Karenanya, lanjut Jokowi, merayakan Natal berarti mengubah cara berfikir dan bertindak, cara berhuhungan antar anak bangsa untuk menghayati pancasika. 

“Merayakan Natal berarti kita semua menjalankan revolusi karakter mental. Inti revolusi karakter mental adalah menjadi manusia baru yang lebih optimis, disiplin dan kerja keras,” tegas Presiden. 

Menurut Jokowi, sudah saatnya Bangsa Indonesia bergerak meninggalkan kultur yang dipenuhi kepalsuan, semu, kemunafikan, serta hanya mementingkan diri sendiri dan kurang berbagai. Natal, ditegaskan Jokowi, harus membawa perubahan sikap mendasar, karena dunia sudah berubah dengam cepat. “Maka dibutuhkan manusia Indonesia yang berdikari dan dapat menegakan nilai keutamaan, seperti nilai budi pekerti, sopan santun, kepantasan, gotong royong, dan toleransi,” pesannya.

Mengutip pernyataan Paus Fransiskus, Jokowi menegaskan Natal tanpa pembaharuan dan perubahan perilaku hanyalah sekedar sandiwara. Karenanya, Natal harus membawa komitmen bangsa dan negara. 

“Kiga harus bekerja keras. Kita bekerja, kita mendapatkan hasil. Indonesia harus semakin makmur, sejahtera, damai, dan penuh suka dan cita,” kata Jokowi disambut tepuk tangan umat Kristiani yang hadir.

“Urusan Indonesia lebih jujur, adil, dan sejahtera adalah tugas kita semua, termasuk umat Kristiani di Indonesia. Bekerja untuk kemuliaan Indonesia harus menyatu dalam diri umat Kristiani,” tambahnya. 

“Selamat hari Natal 2015 dan tahun baru 2016. Selamat sore. Sampai jumpa lagi,” tandas Jokowi mengakhiri sambutannya dan disambut hirup pikuk tepuk tangan umat Kristiani yang memadati alun-alun Rumah Jabatan Gubernur NTT

Sebelumnya, Uskup Agung Kupang dalam sambutannya menyampaikan bahwa tema perayaan Natal tahun ini adalah “Hidup bersama Sebagai Keluarga Allah”. Tema itu menurut Uskup Agung Kupang merupakan cerminan harapan Umat Kristiani di Indonesia. “Sebagai keluarga, umat manusia diciptakan dalam rumah bersama dengan sumber daya cukup. Hal utama dalam keluarga Allah adalah hubungan baik dengan Allah, hubungan baik sesama manusia, serta hubungan baik dengan alam,” terangnya. 

Menurut Uskup Agung Kupang, hubungan ini sering rusak sehingga muncul  kesenjangan sosial, penyalahgunaan wewenang, narkoba, radikalisme, terorisme, perusakan alam, diskriminasi, penganguran, dan perdagangan manusia. Akibatnya,  hidup bersma dalam keluarga menjadi tidak damai, bahkan penuh kecurigaan dan ketakutan. 

“Akar semua ini adalah cinta diri. Apa yang menyenangkan diri sendiri menjadi kriteria terdalam dalam hidup sehingga keluarga Allah mengalami kehancuran,” terangnya. (mkd/mkd)



Source link : Kementerian Agama RI

About

POST YOUR COMMENTS

Pengunjung

  • 0
  • 191
  • 561
  • 8.138
  • 41.546
  • 502.300
  • 1.260.336
  • 15