Negara Islam Berkonflik Akibat Intervensi Asing dan Radikalisme |

0 22

DMI.OR.ID, JAKARTA – Saat ini, ada dua hal penyebab utama terjadinya konflik, pertentangan, dan perperangan di negara-negara Islam atau berpenduduk mayoritas Muslim. Pertama, karena sebab intervensi dari negara-negara besar yang justru semakin memperbesar konflik dan menciptakan konflik baru. Kedua, karena sebab pikiran dan tindakan radikal. Pengalaman Indonesia seperti itu.

Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia (RI), DR. H. Muhammad Jusuf Kalla, menyatakan hal itu pada Kamis (3/5) siang, saat menutup secara resmi Konsultasi Tingkat Tinggi (KTT) Cendekiawan Muslim Dunia Tentang Islam Wasathiyah atau High Level Consultation of World Muslim Scholars on Wasathiyyat Islam di Istana Wakil Presiden RI, Jakarta Pusat.

“Diantara 53 negara Islam, hampir setengahnya mengalami masalah. Dengan penuh rasa syukur, sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, tentu kita (Indonesia) bertanggungjawab, bagaimana kita menciptakan Islam yang damai, wasathiyyah, hingga tercipta kedamaian,” tutur Wapres Kalla pada Kamis (3/5) siang.

Ada dua hal, lanjutnya, sebab utama mengapa banyak negara Islam yang mengalami pertentangan dan perang. Pertama ialah intervensi negara-negara besar yang justru memperbesar konflik dan menciptakan konflik baru.

“Kemudian pikiran dan tindakan radikal. Pengalaman Indonesia juga seperti itu, tetapi semuanya bisa kita damaikan. Timbulnya radikalisme bukan hanya disebabkan umat Islam, tetapi dalam banyak hal terjadi akibat pikiran radikal. Banyak pula terjadi bunuh diri, perang atas nama jihad atau agama,” papar Wapres Kalla yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI) itu.

Wapres Kalla pun menjelaskan alasan logis mengapa banyak anak-anak muda yang siap bunuh diri atas nama agama. “Mengapa generasi muda saat ini mau bunuh diri atas nama agama? lalu memberikan efek kepada yang lain? Mengapa itu terjadi?” imbuhnya.

“Karena mereka ingin mencapai surga dengan gampang. Inilah yang saya alami di Ambon dan Poso, mengapa anak-anak ini mau bunuh diri? Saya bilang, membunuh perempuan dan anak-anak itu haram, masuk neraka kalian. Bahkan menebang pohon pun haram. Lihat saja teror di Eropa, anak-anak muda itu tidak ke masjid, tetapi justru menjual khamar. Tapi inginnya masuk ke surga,” tegasnya.

Wapres Kalla yang juga Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) itu pun menyatakan bahwa dasar agama Islam adalah salam, kedamaian. “Ucapan salam diantara kita, memberikan penghargaan satu sama lain. Dasar agama kita adalah salam, kedamaian,” ujarnya.

“Namun hari ini, abad ini, dalam pengalaman sejarah, kita sangat sedih. Begitu banyak konflik, perperangan diantara kita yang disebabkan politik, perang, dan konflik. Bagaimana memperbaiki kondisi saat ini? Antara lain dengan sumbangan pikiran wasathiyyah Islam,” ungkapnya.

Konsultasi Tingkat Tinggi ini diselenggarakan oleh Kantor Utusuan Khusus Presiden (UKP) RI untuk Dialog dan Kerja Sama Antar Agama dan Peradaban (DKAAP). Acara ini berlangsung pada Selasa (1/5) hingga Kamis (3/5) dan berlangsung di Hotel Novotel, kota Bogor. Sedangkan pembukaannya berlangsung di Istana Bogor, Kota Bogor, Jawa Barat.

Berdasarkan jadwal acara yang diterima DMI.OR.ID, kegiatan ini menghadirkan Imam Besar (Grand Syeikh) Al Azhar, Prof. Dr. H. Ahmad Muhammad Ath-Thayyib, selaku  narasumber dan pembicara utama dalam Konsultasi Tingkat Tinggi ini.

Pembicara utama lainnya ialah UKP RI untuk DKAAP, Prof. Dr. H. Muhammad Siradjuddin Syamsuddin, M.A., yang juga Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. Hadir juga Presiden Forum Promosi Perdamaian Masyarakat Muslim, Prof. Dr. Abdullah bin Bayyah, yang juga Presiden Persatuan Cendekiawan Muslim Internasional.

Berdasarkan pantauan DMI.OR.ID, acara penutupan di Kantor Wapres ini turut dihadiri oleh UKP RI untuk DKAAP, Prof. Dr. H. Muhammad Siradjuddin Syamsuddin, M.A., Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI,  Dr. H. Muhammad Hidayat Nur Wahid, M.A., serta seluruh peserta KTT Cendekiawan Muslim Dunia Tentang Islam Wasathiyah.

Hadir pula sejumlah cendekiawan Muslim Indonesia, seperti Prof. Dr. H. Muhammad Quraish Shihab, M.A., Prof. Dr. H. Komaruddin Hidayat, dan Prof. Dr. H. Azyumardi Azra, M.A., C.B.E.

Usai memberikan kata sambutan, Wapres Kalla mengajak seluruh tamunya untuk ramah-tamah dan santap siang bersama di Istana Wapres RI, Jakarta Pusat. Usai santap siang, dilakukan sesi foto bersama di halaman depan Istana Wapres RI. Tepatnya di bawah bendera merah putih yang sedang berkibar di sana.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani

Source link : Dewan Masjid Indonesia

Leave A Reply

Your email address will not be published.