Menjadi Islam Secara Kaffah dan Rahasia ‘’Sembahyang Balantuang’’

Menjadi Islam Secara Kaffah dan Rahasia ‘’Sembahyang Balantuang’’

Untitled-1

Release, Jumat 11 Desember 2015.

 

Acara                     : Pengajian Dhuha..

Penceramah           : Ustad Afif Hamka.

Waktu                   : Sabtu, 12 Desember 2015, pukul 07.00 s/d 09.00 WIB

Tempat                 : Masjid Al Ihsan, Komplek Astek-Wartawan Leguti – Serpong.

 

 

 

 

 

Menjadi Islam Secara Kaffah dan Rahasia ‘’Sembahyang Balantuang’’

 

SEORANG muslim harus menerapkan ajaran Islam secara sungguh-sungguh dalam segala aspek kehidupannnya. Dia harus memasuki Islam secara Kaffah (keseluruhan). Dan jangan menjadi Islam yang tidak kafaah atau hanya sepotong-potong.

 

Keharusan menjadi Islam secara kaffah itu tercamtum dalam kitab suci Al Quran. Dalam surat Al Baqarah ayat 208, Allah berfirman: ‘’Hai orang-orang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.’’

 

Pentingnya memahami dan mendalami Islam secara kerseluruhan itulah yang akan di-jlentrehkan Ustad Afif Hamka, dalam tausiahnya di Pengajian Dhuha, Sabtu (12 Desember 2015) besuk pagi. Kegiatan yang akan berlangsung di Masjid Al Ihsan, komplek Astek-Wartawan, Lengkong Gudang Timur (Leguti) Serpong ini memang cukup penting untuk didalami. Afif Hamka merupakan anak kesembilan dari duabelas bersaudara keluarga Abdul Malik Karim Amarullah atau lebih di kenal Buya Hamka.

 

Afif sangat prihatin dengan kondisi di Indonesia saat ini. Betapa tidak, negeri berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa itu, sesuai catatan Kartu Tanda Penduduk (KTP), mayoritas memeluk agama Islam. Tetapi faktanya, mereka mengindikasikan belum ber-Islam secara kaffah.

 

Indikasi ini terbukti banyaknya perilaku orang yang mengklaim beragama Islam, tetapi belum mematuhi ajaran-ajaran Islam yang banyak tertuang dalam ayat-ayat Qur’an maupun Hadist. ‘’Indonesia merupakan negeri pemeluk Islam terbesar di dunia. Majelis taklim tumbuh dimana-mana. Jumlah pondok pesantrenya pun terbanyak di dunia. Tetapi, faktanya kasus korupsi di negeri ini juga berada di peringkat atas dunia,’’ kata Afif.

 

Pria yang sejak usia bocah sering mengumandangkan azan subuh di masjid Al Azhar, Kebayoran Baru, itu bertanya-tanya, ‘’Betulkah kita sudah ber-Islam secara kaffah?.’’

 

Sebagai sosok yang dibesarkan dari keluarga Islam, diakui Afif memang tak mudah untuk mengimplementasikan ‘’ber-Islam secara kafah’’. Meski begitu, upaya untuk menjadi Islam yang taat terus diupayakan.

 

Satu kebiasaan yang diajarkan sang ayah, Buya Hamka, sejak masih bocah adalah shalat subuh pada hari Jumat dengan surat As Sajadah pada rakaat pertama untuk melaksanakan Sujud Tilawah. Di keluarga Buya Hamka, sholat dengan Sujud Tilawah itu diistilahkan dengan ‘’Sembahyang Balantuang.’’

 

Pada awal-awalnya, Afif merasakan shalat dengan sujud tilawah itu merupakan ‘’siksaan’’ karena waktu yang digunakan lebih lama dibanding shalat biasa. Maklum bacaan surat As Sajadah yang panjang diselengi Sujud Tilawah dipertengahan surat lalu di sambung lagi, kemudian di rakaat kedua di baca surat Ad Dahr.

 

Tetapi kebiasaan shalat subuh dengan Sujud Tilawah yang awalnya seperti manjadi ‘’siksaan’’ itu menjadi ringan dan terbukti banyak manfaatnya. Kebiasaan yang dilaksanakan ketika Buya Hamka masih hidup dan menjadi imam di masjid Al Azhar itu masih dilanjutkan Afif hingga sekarang. ‘’Salah satu manfaatkan yang saya peroleh adalah kita menjadi peka terhadap keadaan. Istilahnya, orang sering menyebut punya indra ke enam,’’ terang Afif.

 

Untuk lebih jelasnya tentang Sembahyang Balantuang dan Sudahkah kita Ber-Islam Secara Kaffah, silahkan hadiri Pengajian Dhuha di masjid Al Ihsan, Sabtu (12 Desember 2015) pagi, mulai pukul 07.30 hingga 09.00 WIB. (DKM Al Ihsan).

Foto Profil dari admin
About

POST YOUR COMMENTS

Pengunjung

  • 1
  • 1.862
  • 656
  • 7.957
  • 47.915
  • 516.214
  • 1.164.927
  • 1.014