Menag Resmikan Laboratorium Praktikum Ibadah STAIN Jayapura

Menag Resmikan Laboratorium Praktikum Ibadah STAIN Jayapura



Jayapura (Pinmas) —- Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meresmikan Laboratorium Praktikum Ibadah Masjid Kampus STAIN Al-Fatah, Kota Jayapura Provinsi Papua, Selasa (22/12). Peresmian ditandai dengan penandatanganan Prasasti dilanjutkan peninjauan ruang dalam masjid kampus yang dibangun di salah satu sisi area kampus yang luasnya mencapai 12 H.

Ikut hadir dalam peresmian Laboratorium, Kakanwil Kemenag Provinsi Papua, Walikota Kota Jayapura, Ketua Pengadilan Tinggi, Ketua STAKPN Jayapura dan keluarga besar Civitas Akademika dan stakeholder STAIN Al-Fatah Jayapura.

Menag berharap, Laboratorium Masjid ini mampu menebarkan esensi dan substansi ajaran agama.  Menurutnya,  agama di Indonesia mempunyai posisi penting dan strategis. Agama mampu menjadi perekat, penjalin, perajut dan perangkai kemajemukan Bangsa  Indonesia yang majemuk.  “Kebesaran kita, eksistensi Bangsa kita tetap terpelihara dan terjaga, dan nilai-nilai agama, mempunyai andil besar dalam merawat kebersamaan ini. Karena, esensi dan substansi agama adalah memanusiakan manusia, menjaga dan memelihara harkat dan martabat kita” kata Menag.

Meski demikian, Menag mengingatkan soal dampak negatif globalisasi. Banyak nilai-nilai asing yang tidak sesuai dengan kearifan, paradigma, dan tata nilai bangsa, masuk ke ruang pribadi dengan mudah. Karenanya, Menag berharap Laboratorium Masjid ini mampu berperan dalam menangkal hal-hal luar yang tidak sesuai dan ikut menjaga dan memelihara nilai-nilai agama dan nilai-nilaib ke-Indonesia-an.

“Agama sebagai nilai, harus mampu menjadi acuan dan pedoman kita dalam menjaga dan memahami perbedaan antarkita. Di sini kita memerlukan kearifan tersendiri dalam mensikapi perbedaan,” urai Menag di hadapan civitas akademika kampus yang bermotto: Kampus IDAMAN (Indah, Damai, Aman dan Menyenangkan) tersebut.

Menag menyatakan, bahwa perbedaan adalah ketentuan dan takdir Tuhan (Sunnatullah). Karenanya, agama lebih baik jika digunakan sebagai alat untuk menjaga perilaku seseorang terhadap orang lain, dan bukan untuk menilai orang lain. “Jika hal ini kita lakukan, insyaAllah, perpecahan, sengketa dan lain sebagainya bisa diminimalisir,”  terangnya.

Menurutnya, toleransi  adalah kemampuan menghormati dan menghargai perbedaan, bukan menuntut orang lain untuk mengerti atau menghormati. “Jika hal ini bisa kita implementasikan, maka ingatan kolektif kita sebagai sebuah Bangsa akan membuat kita semakin maju dan baik, harap Menag. (G-penk/mkd/mkd)



Source link : Kementerian Agama RI

About

POST YOUR COMMENTS

Pengunjung

  • 0
  • 190
  • 561
  • 8.137
  • 41.545
  • 502.299
  • 1.260.335
  • 29