Dogma dalam Diri Sosok Pemuda

Dogma dalam Diri Sosok Pemuda


Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Soekarno dalam pidatonya menyatakan, “Berikan aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan aku satu pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” (Bung Karno). Kalimat tersebut sudah sering terdengar dalam telinga kita. Jika kita kaji lebih dalam, maka kita akan melihat bahwa sejatinya pemuda memiliki peran yang cukup besar dalam memajukan bangsa. Namun jika kita lihat pemuda di zaman sekarang, masihkah sosok pemuda menjadi garda terdepan dalam menggores sejarah kebangkitan bangsa? Jika tidak, pantaskah kita sebagai pemuda berdiam diri menunggu maut menjemput hanya dengan melenggak-lenggok sana sini dengan sandang brand luar negeri karena telah hilang jati diri?

Jiwa seorang pemuda bagaikan bara api yang mana cahaya merah kemilaunya menggeliat. Memancarkan semangat, menumbuhkan sikap dan rasa keingintahuan yang tinggi. Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2015 jumlah pemuda (anak muda) mencapai 62,4 juta orang. Itu artinya, rata-rata jumlah pemuda 25% dari proporsi jumlah penduduk Indonesia secara keseluruhan. Maka jika sumber daya ini dapat dikembangkan, potensi bangsa menuju bangsa yang maju bukan lagi hanya sebatas mimpi. Lalu, pertanyaan yang kemudian muncul ialah potensi apa dan bagaimana agar pemuda dapat menjadi investasi jangka panjang?

“Bahwa investasi jangka panjang yang sesungguhnya adalah pengembangan Sumber Daya Manusia.” (Anies Baswedan)

Hal yang urgent ialah tentang menanamkan “Dogma” bagi pemuda. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dogma diartikan sebagai pokok ajaran ( kepercayaan ) yang harus diterima sebagai hal yang benar dan baik, tidak boleh dibantah dan diragukan. Kepercayaan yang ditanamkan di sini adalah terkait dengan idealisme sebagai pemuda bangsa yang harus memiliki sikap nasionalisme yang diimplementasikan dengan berkontribusi dalam membangun bangsa melalui berbagai kegiatan positif. Selain itu, pemuda harus berpartisipasi dan mengkritisi beragam fenomena sosial politik yang ada di negeri ini. Tak elok rasanya jika sosok yang digaungkan akan menjadi garda terdepan memajukan bangsa, justru terseok tak berdaya terhegemonisasi arus barat. Maka dengan satu tekad dan tujuan, mari bulatkan tekad. Luruskan niat kita dengan meningkatkan diri dengan prestatif, aktif, peduli, dan kontributif demi Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:

Loading…
Nanda Putu Kasrani

Perempuan yang dilhirkan dari keluarga yang sederhana. Mencoba meraih mimpi dengan meniti ilmu di Kampus Perjuangan Universitas Indonesia. Saat ini duduk di semester lima jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI. Saat ini menjabat sebagai Kepala Departemen Advokasi Kesejahteraan Mahasiswa BEM FISIP UI 2015. Aktif di organisasi dan kepanitiaan serta tak lupa dengan kewajibannya sebagai seorang muslimah. Bercita-cita ingin menjadi orang yang dapat memberikan dampak dan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat.



Source link : dakwatuna.com

About

POST YOUR COMMENTS

Pengunjung

  • 0
  • 150
  • 429
  • 3.279
  • 24.671
  • 502.286
  • 1.282.800
  • 18