Berladang

Berladang


Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Petani. (inet)
Ilustrasi – Petani. (inet)

dakwatuna.com – “Kukuruyuk” Ayam berkokok di pagi buta. Membangunkan setiap manusia yang sadar akan tugasnya. Aku masih malas mengangkat badan. Serasa ditimpa beban dua kuintal, tubuh tak hendak beranjak dari ranjang ini. Beda dengan ibu angkatku, bahkan beliau telah gonjang-ganjing sejak pukul tiga dini hari tadi. Mau tak mau, malu menjebakku untuk mengangkat beban dua kuintal tadi.

“Pagi Bu.”

“iya, Anti sudah bangun?”

Senyum canggung kurasa sudah cukup untuk menjawab pertanyaan Ibu. Lalu aku mulai berlalu menuju kamar mandi. Wudhu, shalat subuh, dan lanjut mengamati aktivitas ibu di dapur.

“Bu, kenapa kabut asap semakin banyak?” tanyaku mengawali pagi sendu.

Ibu menjelaskan dengan gamblang. Musim berladang sudah tiba. Para petani membakar lahan. Perdu yang besar dan tinggi tak mempan kalau hanya disemprot menggunakan pestisida. Tanah di Kalimantan tentu beda dengan tanah di Jawa. Cara bercocok tanamnya juga beda banget. Tidak ada namanya kerbau membajak lahan, apalagi repot-repot soal pengairan. So, musim berladang dimulai dengan menyemprot rumput di ladang dengan pestisida. Jika rumput telah mati dan mengering, maka saat bakar-membakar boleh dimulai. Maklum, di sini lebih banyak perdu ketimbang rumput. Kebayang susahnya menanam kalaulah perdu-perdu ini tak dibakar. Selesai urusan bakar-membakar , selang satu sampai tiga minggu petani akan menyemprot lagi rumput-rumput kecil yang mulai tumbuh. Tunggu saja dua atau tiga hari. Jika panas matahari menggelegak, sudah dipastikan ladang menjelma menjadi lapangan luas berwarna coklat tanah yang begitu memukau. Hubungannya dengan kabut asap yang semakin banyak, tentu disebabkan oleh kewajiban petani melakukan ritual bakar-membakar.

Aku mulai berpikir untuk ini. Urusan berladang jadi tak sederhana kalau asap terus mengudara. Bayangkan, sudah berapa banyak warga yang terkena ISPA dan mulai bengek karena asma. Apakah setiap tahun begini? Sepertinya, tiap petani memang membakar ladangnya. Begitulah cara petani menebas tanah berhitung hektar. Kalikan saja jumlah itu dengan jumlah petani di Pulau Borneo ini, sebanyak itu ladang dibakar untuk dibersihkan. Atas pembakaran itu, akan lamakah api bertahan? Mungkinkah itu sebab kita jadi pengekspor asap bahkan sampai pada negeri tetangga? Atau ada yang numpang ekspor asap pada petani? Numpang? Iya, numpang. Ikut membakar tapi tidak mau disalahkan. Lempar asap, sembunyikan korek. Mau tunjuk siapa? Tentulah susah. Siapa yang membakar lahan lebih banyak dan lebih luas untuk ditanami padi? Sedang dengan tanah sendiri saja petani Borneo kewalahan menanami. Apakah memang petani pelakunya?

Ibu mulai lagi mengeluarkan serentetan kisah asap. Dari serentetan itu, intinya kabut asap di tahun-tahun yang lalu tak setebal tahun ini. Entahlah, barangkali alam mulai lelah.

Pikiranku buntu memikirkan berladang dan asap. Di televisi lokal, banyak sekali dialog interaktif soal bagaimana caranya agar petani berladang tanpa membakar lahan. Bagaimana sosialisasi kepada warga, dan bagaimana memberi sanksi tegas pada pihak pelanggar. Konon, akan ada sanksi bagi para pembakar lahan yang ketahuan. Berupa denda atau kurungan.

Soal asap, lagi-lagi berladang jadi kambing hitam. Padahal, berladang dengan cara membakar lahan sudah dilakukan sejak lama. Namun, tak berdampak menjadi bencana asap nasional seperti sekarang ini. Jadi apanya yang salah? Kalau ada larangan membakar lahan, terus kudu gimana cara berladangnya? Semua warga yang ditanya pasti menjawab ,“ Ya kudu gitu, mau gimana lagi? Kudu dibakar!”

Aku tak ingin merusak pagi oleh urusan asap. Meski udara di sekitar tempat tinggal mulai berbahaya sampai sekolah diliburkan beberapa hari, aku tak hendak menyalahkan petani yang membakar lahan atas bencana asap ini. Sepertinya, aku mulai meyakini bahwa pembakaran lahan bukan hanya dilakukan oleh petani, tapi oleh pihak lain yang memiliki kepentingan sebagaimana diberitakan di televisi.

Karena banyaknya televisi lokal yang memberitakan asap terjadi karena ulah petani, aku memaksa ibu mengajakku ke ladang pagi ini. Penasaran yang sangat, serta kerinduan bertani membuat ibu kewalahan menolak permintaanku. Usai sarapan, kami mendayung sampan menuju ladang. Benar saja, ladang-ladang sudah berubah layaknya lapangan bola dengan rumput kecoklatan. Sebagian petani bahkan berlari-lari menjaga nyala api agar tidak merembet ke ladang tetangga. Perdunya memang tinggi, rumputnya juga tebal. Kondisi ini yang membuat petani memilih membakar daripada menebas. Membakar dirasa lebih efisien, irit tenaga, waktu dan biaya.

Aku menikmati suasana ladang pagi ini. Rasanya dibawa terbang kembali ke masa kecil dulu. Sama persis. Sungguhpun demikian, aku mulai memahami betapa menanam padi di Kalimantan tak semudah menanam padi di Jawa. Mulai dari biaya, berladang di Kalimantan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dengan kondisi tanah yang kurang subur, dan pengairan yang bergantung pada hujan, serta harga pupuk dan pestisida yang mahal menyebabkan para petani ini sering mengalami kerugian. Apalagi jika musim penghujan tidak memberikan asupan air yang cukup untuk tanaman, bisa dipastikan hasil panen tidak akan menjanjikan. Namun, tak ada pilihan lain. Meski peluang ruginya lebih besar, momen berladang selalu menjadi momen yang ditunggu dan dinantikan.

So, soal kabut asap, mohon jangan salahkan petani di musim berladang ini. Paling tidak, pahamilah bahwa membuat aturan harus disertai dengan data yang dapat dipertanggungjawabkan. Lagi pula, lahan petani tak seluas lahan yang terbakar tahun ini.

Mari berladang…

 

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:

Loading…
Riyanti

Relawan SGI angkatan ke 7 Daerah Penempatan Kubu Raya Kalimantan Barat. Mengabdi di SD N 06 Rasau Jaya.



Source link : dakwatuna.com

About

POST YOUR COMMENTS

Pengunjung

  • 0
  • 181
  • 561
  • 8.128
  • 41.536
  • 502.290
  • 1.260.326
  • 23